Senin, 30 Agustus 2010

“PERAN HIJAUAN TANAMAN PAKAN DI DALAM MENDUKUNG KEBERHASILAN USAHA PETERNAKAN RUMINANSIA PENGHASIL SUSU”

TUGAS ILMU PETERNAKAN UMUM
“PERAN HIJAUAN TANAMAN PAKAN DI DALAM MENDUKUNG KEBERHASILAN USAHA PETERNAKAN RUMINANSIA PENGHASIL SUSU”


Oleh:
Afrida Fatkhiatul Musfiroh, S.Pt



PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU TERNAK
PROGRAM PASCA SARJANA
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2010

BAB I
PENDAHULUAN
Rendahnya produksi susu disebabkan oleh beberapa faktor penentu dalam usaha peternakan yaitu pemuliaan dan reproduksi, penyediaan dan pemberian pakan, pemeliharaan ternak, penyediaan sarana dan prasarana, serta pencegahan penyakit dan pengobatan. Pakan ternak mempunyai peranan penting dalam setiap usaha peternakan dan merupakan bagian terbesar dari total biaya produksi. Pakan ternak yang digunakan perlu dilakukan pengawasan yang sebaik-baiknya sehingga peternak dapat terlindungi dari kerugian terutama dalam hal produksi susu untuk sapi perah. Apalagi mengingat produksi susu Indonesia yang masih rendah. Padahal susu sapi merupakan bahan pangan yang sangat berharga karena memiliki kandungan nutrien esensial yang tinggi, dan menurut penelitian, dengan mengkonsumsi susu, resiko terkena penyakit degenaratif menjadi rendah. Rendahnya konsumsi protein hewani berdampak pada tingkat kualitas hidup dan daya saing bangsa.
Berdasarkan hal yang dijelaskan di atas, sudah seharusnya konsumsi susu terpenuhi dengan baik. Hal pertama yang dilakukan meningkatkan jumlah produksi dan memperbaiki kualitas susu, yaitu dengan melakukan perbaikan pakan, baik dari segi kualitas, kuantitas, maupun manajemen pakannya.










BAB II
ISI
2.1. Pakan sebagai Faktor Utama yang Mempengaruhi Produksi Susu
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi produksi susu pada sapi perah. Menurut Hartutik (2008) menjelaskan bahwa manajemen pakan memiliki proporsi sebesar 70% dalam produktivitas susu, dan sisanya adalah breeding dan manajemen kandang. Dalam rangka meningkatkan efisiensi manajamen pemeliharaan ternak khususnya pemberian pakan, perlu dilakukan strategi pemberian pakan yang meliputi penyediaan bahan pakan, penyusunan ransum, penyajian pakan dan peran kelembagaan yang terkait. Penyediaan bahan pakan sapi perah harus mempertimbangkan faktor palatabilitas, nilai nutrisi, ketersediaan dan tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, serta harga terjangkau. Sapi perah hendaknya diberi dua kelompok pakan yaitu pakan hijauan dan pakan konsentrat. Pakan hijauan merupakan pakan utama ruminansia karena melalui fermentasi di dalam rumen oleh mikroba, serta dapat menyediakan energi untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok. Sementara pakan konsentrat adalah campuran bahan pakan yang kaya energi dan protein, yang berguna untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas susu sapi perah laktasi. Penyusunan ransum bagi sapi perah haruslah seimbang dalam arti ransum yang diberikan harus sesuai dengan jumlah dan proporsi semua kebutuhan nutrian sapi perah dalam keadaan layak 24 jam.
Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah memperhatikan tingkat degaradasi pakan di dalam rumen. Dalam hal penyajian pakan pada sapi perah, beberapa strategi yang dilakukan diantaranya adalah pemberian pakan cara hijauan dan konsentrat secara bersamaan, menghindari penggilingan pakan hijauan yang terlalu halus, dan frekuensi pemberian pakan yang sering. Strategi terakhir dalam manajemen pakan ternak adalah peningkatan peran kelembagaan. Strategi ini melibatkan banyak stakeholder seperti KUD, pihak swasta, pemerintah, perguruan tinggi dan balai penelitian terkait yang melakukan dukungan terhadap perbaikan manajemen pemberian pakan sapi perah rakyat. Beberapa kegiatan yang diselenggarakan di antaranya meningkatkan pembinaan kepada peternak, mengupayakan harga susu yang layak, memfasilitasi pemberian kredit lunak, dan menciptakan peralatan teknologi tepat guna bagi peningkatan produksi susu. Mariyono, dkk (1991) menjelaskan bahwa tingginya kebutuhan pakan untuk memproduksi setiap kilogram susu, disamping karena faktor bangsa diduga dipengaruhi pula oleh kualitas pakan yang rendah, khususnya kualitas protein serta imbangannya dengan energi ransum.

2.2. Pakan
Pakan sapi perah menurut Syukur (2004) pada umumnya dibagi tiga :
a. Hijauan
Menurut keadaannya, jenis hijauan dibagi enjadi 3 katagori, yaitu hijauan segar, hijauan kering, dan silase. Macam hijauan segar adalah rumput-rumputan(Rumput gajah ( Pennisetum purpureum), Rumput Raja (King grass), setaria, benggala (Pennisetum maximum), rumput lapang dan BD (Brachiaria decumbens)), kacang-kacangan (leguminosa) seperti lamtoro, turi, gamal dan tanaman hijau lainnya. Rumput yang baik untuk pakan sapi adalah rumput gajah, rumput raja (king grass), daun turi, daun lamtoro. Hijauan kering berasal dari hijauan segar yang sengaja dikeringkan dengan tujuan agar tahan disimpan lebih lama. Termasuk dalam hijauan kering adalah jerami padi, jerami kacang tanah, jerami jagung, dsb. yang biasa digunakan pada musim kemarau. Hijauan ini tergolong jenis pakan yang banyak mengandung serat kasar. Hijauan segar dapat diawetkan menjadi silase. Secara singkat pembuatan silase ini dapat dijelaskan sebagai berikut: hijauan yang akan dibuat silase ditutup rapat, sehingga terjadi proses fermentasi. Hasil dari proses inilah yang disebut silase. Contoh-contoh silase yang telah memasyarakat antara lain silase jagung, silase rumput, silase jerami padi, dll.
b. Konsentrat : Dedak, bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, jagung kedelai.
Pakan yang diberikan kepada sapi perah secara umum berupa hijauan 60% dari BK (berat kering) dan 40% konsentrat. Dalam hal ini hijauan yang digunakan 75% rumput alam dan 25% rumput unggul. Sebagai contoh bila berat sapi 450 kg dan produksi susu 13 kg / hari lemak 3,5% dapat diberikan pakan : rumput alam 21 kg, rumput gajah 7,5 kg dan konsentrat pabrik 6 kg.
Cara pemberian pakan ada 3 macam yaitu:
a) Sistem penggembalaan (pasture fattening)
Penggembalaan dilakukan dengan melepas sapi-sapi di padang rumput, yang biasanya dilakukan di daerah yang mempunyai tempat penggembalaan cukup luas, dan memerlukan waktu sekitar 5-7 jam per hari. Dengan cara ini, maka tidak memerlukan ransum tambahan pakan penguat karena sapi telah memakan bermacam-macam jenis rumput.
b) Kereman (dry lot fattening)
Pakan dapat diberikan dengan cara dijatah/disuguhkan yang yang dikenal dengan istilah kereman. Sapi yang dikandangkan dan pakan diperoleh dari ladang, sawah/tempat lain. Setiap hari sapi memerlukan pakan kira-kira sebanyak 10% dari berat badannya dan juga pakan tambahan 1% - 2% dari berat badan. Ransum tambahan berupa dedak halus atau bekatul, bungkil kelapa, gaplek, ampas tahu. yang diberikan dengan cara dicampurkan dalam rumput ditempat pakan. Selain itu, dapat ditambah mineral sebagai penguat berupa garam dapur, kapus. Pakan sapi dalam bentuk campuran dengan jumlah dan perbandingan tertentu ini dikenal dengan istilah ransum.
c) Kombinasi cara pertama dan kedua
Pemberian pakan sapi yang terbaik adalah kombinasi antara penggembalaan dan keraman.




2.2. Produksi dan Konsumsi Susu di Indonesia
Perkembangan produksi susu di Indonesia dengan jumlah sapi perah yang ada dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tahun Populasi Sapi Perah (ekor) Produksi Susu (ton)
2003 374.000 553.400
2004 364.000 549.900
2005 361.000 536.000
2006 369.000 616.500
2007 378.000 636.900
Sumber: Pangan dan KesehatnMasyarakat Veteriner (Nugroho, 2008)
Produksi sebesar itu hanya memenuhi 25-30% kebutuhan konsumsi nasional, sehingga harus didatangkan susu dan produk olahannya dari luar negeri yang terbanyak dari New Zealan, Australia, dan Philipina. Kondisi ini sangat jelas menimbulkan ketergantungan yang sangat tinggi, sehingga apabila terjadi gejolak pasokan dari luar negeri maka kenaikan harga akibat kekurangan stok susu di dalam negeri. Gambaran sederhana ini sangat jelas memperlihatkan bahwa strategi pebangunan di bindang pangan dalam hal ini sektor persusuan sangat tidak diperhatikan. Perbandingan yang sangat jauh terjadi apabila kita lihat tingkat konsumsi susu Indonesia dengan Kamboja, Malaysia, Singapura, dan India yang merupakan negara-negara tetangga kita di Asia. Tingkat konsumsi susu Indonesia pada tahun 2003 hanya 6,5kg/kapita/tahun hanya separo dari Kaboja yaitu 12,5kg/kapita/tahun, Malaysia yang saat itu telah mencapai 23kg/kapita/tahun sementara Singapura 26kg/kapita/tahun, India sudah mencapai 75kg/kapita/tahun. Tahun 2007 disebutkan bahwa konsumsi susu di Indonesia saat itu telah mencapai 11 kg/kapita/tahun. Kalau dilihat dari proporsi bentuk komoditi susu yang dikonsumsi, maka masyarakat Indonesia merupakan konsumen susu cair yang sangat kecil di banding negara-negara lain bahkan di Asia. Konsumsi susu cair di Indonesia hanya 18 % apabila dibandingkan dengan India yang 98%, Thailand 88%, Cina 76,5%.
Sebuah kondisi yang sangat kontradiksi, bahwa negara dengan kekayaan alam dan sumber daya manusia yang memiliki potensi besar sebagai penghasil pangan termasuk susu justru menjadi negara pengimpor besar untuk pemenuhan kebutuhan pangannya. Hal yang perlu menjadi perhatian kita dan pemerintah khususnya adalah upaya mencapai kemandirian produksi susu sehingga terlepas dari ketergantungan dari negara lain. Selain dari kemadirian dari segi kuantitas hal yang tidak kalah penting adalah kualitas dari sapi perah dan susu yang dihasilkan. Membangun kemadirian pangan khususnya dari sektor peternakan adalah upaya yang tidak serta-merta segera terlihat hasilnya seperti membalik telapak tangan, namun dengan keyakinan bahwa kekayaan dan keluasan alam Indonesia yang besar serta sumber daya manusia di bidang peternakan yang cukup banyak dan kompeten maka ketergantungan pangan sektor peternakan dari luar negeri dapat dikurangi dan semoga negara ini akan dapat menjadi pemasok produk pangan bagi negara lain.

















BAB III
PENUTUP
Pakan memegang peran penting dalam perbaikan kualitas dan kuantitas susu sehingga perlu diberikan perhatian khusus dalam pengadaan jumlahnya, terutama pelestarian jenis rumput-rumputan yang semakin lama semakin berkurang lahannya. Dengan demikian akan mendukung peningkatan produksi susu, yang selanjutnya diharapkan dapat mengurangi impor susu dan mampu menyumbang peran konsumsi protein hewani di masyarakat secara umum.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar